Dahsyatnya Trial and Error

 

 

Dalam wikipedia Trial and error is a fundamental method of problem solving. It is characterised by repeated, varied attempts which are continued until success, or until the agent stops trying.

 

Jadi trial and error itu adalah sebuah kegiatan untuk pemecahan sebuah masalah, dengan melakukan uji coba berulang kali dan tidak takut akan kesalahan, dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan sampai mencapai tujuan.


If you’re not making mistakes, you’re not doing anything.

– John Wooden

Trial and Error itu penting sekali dalam dunia pendidikan, karena semua teori-teori yang ada yang kita pelajari disekolah atau dikampus, itu terkadang hampir 180 derajat berbeda sekali dengan kenyaataan yang ada dalam kehidupaan sehari-hari. Ketika kita mempraktekan ilmu tersebut dalam memecahakan permasalah kita, pemikiran kita menjadi kritis dan lebih peka terhadap masalah-masalah yang terjadi.

 

Selagi kita muda kita harus berjuang, pantang mundur. Hajar setiap kesempatan yang ada, jangan takut akan kegagalan. Setiap orang memang punya jatah gagal dan habisaknlah jatah gagal kita selagi kita masih muda. Bila kita gagal ya coba lagi, jangan pantang menyerah. Tetapi sampai kapan? Ya sampai sukses.

 

 


“Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal adalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat mendapatkan pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua. Tugas kita bukanlah untuk berhasil tugas kita adalah untuk mencoba karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membanggun kesempatan untuk berhasil”

Buya hamka

 

Teori Trial and error


 

Teori Trial and error pertama kali ditemukan oleh Edward Lee Thorndike. Edward Lee Thorndike adalah seorang Psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh kariernya di Teachers College,

Columbia University. Teori inidisebut dengan teori S-R. dalam teori S-R di katakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (Hewan, Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error).    

Menurut Thorndike, belajar dapat dilakukan dengan mencoba-coba. Mencoba-coba ini dapat dilakukan manakala seseorang tidak tahu bagaimana harus memberikan respon. Karakteristik belajar secara mencoba-coba adalah sebagai berikut :

  1. Adanya motif pada diri seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu.
  2. Seseorang berusaha melakukan berbagai macam respon dalam rangka memenuhi motif-motifnya.
  3. Respon-respon yang dirasakan tidak sesuai dengan motifnya akan dihilangkan.
  4. Akhirnya, seseorang mendapatkan jenis respon yang paling tepat.

 

Hukum-Hukum yang digunakan Edward Lee Thorndike

 

Dalam penelitiannya Thoendike meneumukan ada 3 hukum pokok yaitu:

Hukum Latihan (Law of Exercise)

   Hukum ini mengandung 2 hal, yaitu:

1. The Law Of Use, yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi kuat bila sering digunakan. Dengan kata lain bahwa hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi kuat semata-mata karena adanya latihan.

2. The Law of Disuse, yaitu suatu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi lemah bila tidak ada latihan.

Kita harus sering berlatih agar otak kita menjadi aktif dan tidak tumpul. Melatih ilmu yang kita dapatkan disekolah atau dikampus dalam kehidupaan sehari-hari, untuk memecahkan persolaan yang ada. Percuma jika kita punya ilmu tetapi tidak dipraktekan dalam kehidupaan sehari-hari. Bila kita gagal memecahkan permasalahan yang terjadi, jangalah menyerah dan teruslah mencoba sampai berhasil.

 

Hukum Akibat (Law of Effect)   

Hukum ini juga berisikan 2 hal, yaitu : suatu tindakan/perbuatan yang menghasilkan rasa puas (menyenangkan) akan cenderung diulang, sebaliknya suatu tindakan (perbuatan) menghasilkan rasa tidak puas (tidak menyenangkan) akan cenderung tidak diulang lagi. Hal ini menunjukkan bagaimana pengaruh hasil perbuatan bagi perbuatan itu sendiri. Dalam pendidikan, hukum ini diaplikasikan dalam bentuk hadiah dan hukuman. Hadiah menyebabkan orang cenderung ingin melakukan lagi perbuatan yang menghasilkan hadiah tadi, sebaliknya hukuman cenderung menyebabkan seseorang menghentikan perbuatan, atau tidak mengulangi perbuatan.

 

Hukum Kesiapan (The law of readiness)

Hukum ini menjelaskan tentang kesiapan individu dalam melakukan sesuatu. Yang dimaksud dengan kesiapan adalah kecenderungan untuk bertindak. Agar proses belajar mencapai hasil yang sebaik-baiknya, maka diperlukan adanya kesiapan organisme yang bersangkutan untuk melakukan belajar tersebut.

Di samping hukum-hukum belajar seperti yang telah dikemukakan di atas, konsep penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah yang dinamakan Transfer of Training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran konsep transfer of training merupakan hal yang sangat penting, sebab seandainya konsep ini tidak ada, maka apa yang akan dipelajarai tidak akan bermakna.
Oleh karena itu, apa yang dipelajari oleh siswa di sekolah harus berguna dan dapat dipergunakan di luar sekolah.

Semakin kita banyak melakukan trial and error, kita pun jadi lebih mudah untuk memecahkan sebuah masalah-masalah yang ada. Otak kita menjadi cepat untuk memberikan respon, dan cepat menemukan cara yang tepat dalam memecahkan sebuah masalah, karena kita banyak belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. 

Sharing is caring!

1 Comment

  • Freеlancing caan also ennd in an enofmouѕ “pluѕ” relating to your income.
    Instead of getting to acⅽept tһee preϲise salary that is offered by the one laѡ agency that you simply work,
    youve gotten գuite а lot of leeway in setting your personal pay rates.
    Ƭhis factor may end up in significantly extra money for you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *